Kebun Raya Mangrove terletak di pesisir Kecamatan Gunung Anyar, Kota Surabaya, Jawa Timur, dan menampung 57 jenis tanaman mangrove atau bakau.
Dalam pernyataan resminya di Surabaya pada hari Selasa, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan bahwa penyelidikan saat ini sedang dilakukan untuk menambah tiga spesies baru ke dalam daftar kebun raya.
Dia juga menyatakan bahwa mereka berencana untuk bekerja sama dengan daerah lain yang memiliki kebun raya mangrove.
Ia juga menyatakan bahwa pihaknya akan meminta bibit mangrove dan menanamnya di sini jika jenisnya tidak ada di kebun raya mereka.
“Dengan demikian, kebun raya ini akan menjadi semakin lengkap dengan semua jenis mangrove yang ada di Indonesia dan di luar negeri,” kata Cak Eri, panggilan akrab Wali Kota Surabaya.
Selain itu, sebelum diresmikan pada tanggal 26 Juli 2023, bertepatan dengan Hari Mangrove Internasional, Cak Eri juga meninjau Kebun Raya Mangrove Gunung Anyar.
Dia menyatakan, “Kami telah menyiapkan jalur khusus untuk acara peresmian nanti.”
Selain itu, Pak Eri menegaskan bahwa Kebun Raya Mangrove tidak hanya akan menjadi tempat wisata dan tempat pendidikan, tetapi juga akan menghasilkan pendapatan bagi masyarakat sekitar. Konsep ekonomi yang akan digunakan akan sebanding dengan konsep Romokalisari Adventure Land.
Dia berkata, “Hasil kebun raya ini akan diberikan kepada masyarakat, seperti halnya di Romokalisari Land. Dengan demikian, diharapkan ada pengembangan oleh masyarakat dan komunitas yang dapat mengurangi kemiskinan.”
Selain itu, Pak Eri mengatakan bahwa mangrove dapat diolah menjadi berbagai jenis makanan atau minuman, seperti selai atau sari minuman. Pemerintah Kota Surabaya telah bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk melanjutkan pengembangan ini.
Menurutnya, persiapan Kebun Raya Mangrove Surabaya telah mencapai sekitar 99,99 persen. Menurutnya, Presiden kelima Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri, yang merupakan Ketua Yayasan Kebun Raya Indonesia (YKRI), akan meresmikannya.
“Kesiapan kami sudah mencapai 99,99 persen, hanya pembersihan dan hal-hal kecil lainnya yang tinggal. Dia menambahkan, “Kami tidak mengubah atau menyentuh mangrove karena memang begitu adanya, tetapi keindahan mangrove itu murni dari alam dan tanaman mangrove itu sendiri.”