Perluasan Cukai Ungkap Tekanan Fiskal yang Dihadapi Pemerintah
Pemerintah berencana perluasan penerimaan cukai untuk mencakup tiket konser, deterjen, hingga makanan cepat saji. Langkah ini dinilai berpotensi memperburuk kondisi ekonomi Indonesia, karena menunjukkan adanya tekanan fiskal yang semakin berat dihadapi pemerintah.
“Rencana perluasan cukai ini mencerminkan tekanan fiskal yang dialami pemerintah, yang seolah-olah mencari penerimaan negara dengan cara yang tidak efektif,” ujar Yanuar Rizky, pengamat ekonomi, dalam wawancaranya dengan Media Indonesia pada Kamis (25/7). Yanuar menambahkan bahwa bukannya mencari solusi yang dapat meringankan beban ekonomi masyarakat, pemerintah justru berpotensi menambah masalah ekonomi baru.
Menurut Yanuar, dalam situasi ekonomi yang penuh tantangan ini, ancaman inflasi bisa semakin nyata. “Perluasan cukai berpotensi menimbulkan kontraksi ekonomi yang lebih luas, dengan inflasi barang konsumsi sebagai akibat dari biaya cukai yang lebih tinggi,” jelasnya.
Dampak dari rencana memperluas cukai ini kemungkinan akan memengaruhi daya beli masyarakat. Kenaikan harga barang seperti tiket konser, deterjen, dan makanan cepat saji bisa menjadi salah satu konsekuensinya. Peningkatan harga ini tentu dapat mengurangi daya beli konsumen, yang pada gilirannya dapat memperburuk kondisi ekonomi.
Yanuar juga mengingatkan bahwa dalam kondisi nilai tukar rupiah yang melemah, dampak dari cukai yang lebih tinggi bisa menjadi lebih signifikan. “Di tengah daya beli yang menurun, inflasi dapat direspons dengan cara yang beragam, seperti penurunan konsumsi atau bahkan penambahan utang oleh masyarakat. Ini bisa menyebabkan krisis sosial dan memperlemah konsumsi, yang merupakan pilar penting dalam ekonomi,” ujarnya.
Pemerintah diharapkan mempertimbangkan risiko-risiko ekonomi ini secara matang sebelum menerapkan perluasan cukai. Pendekatan yang lebih hati-hati dan strategi yang mendukung perekonomian masyarakat akan lebih bermanfaat dalam jangka panjang.