BMKG Evaluasi Dry Ice OMC usai Video Atap Rumah Bolong

Andi Muhammad Fadli
4 Min Read
Ilustrasi: pesawat modifikasi cuaca menaburkan es kering di atas permukiman yang diselimuti kabut asap. (Gambar dibuat dengan AI)

PALEMBANG, Penjuru.co.id – Penyemaian dry ice untuk Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah Sumatera Selatan dievaluasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Langkah ini diambil setelah video dugaan gumpalan es menjebol atap rumah warga di Palembang ramai beredar di media sosial.

Dikutip dari Republika dan JPNN, penjelasan itu disampaikan Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Siswanto, pada Senin (19/10/2026). Menurut dia, evaluasi bertujuan memastikan ukuran material yang ditaburkan sesuai ketentuan dan operasi tetap aman bagi warga.

Ukuran Ideal Dry Ice Hanya Sekitar 3 Milimeter

Siswanto menerangkan, butiran es kering untuk penyemaian semestinya berukuran kurang lebih tiga milimeter. Masalahnya, material itu disimpan di ruang pembeku bersuhu sangat rendah sehingga butirannya bisa saling menempel dan membentuk gumpalan.

“Semestinya bahan dry ice itu memang ukurannya 3 mili, tetapi pada saat di penyimpanan itu kan diletakkan di ruang beku yang cukup dingin,” kata Siswanto seperti dikutip JPNN.

Pesawat Kini Dipasangi Penyaring dan Alat Pemecah

Ia juga mengakui, saat uji penyemaian hari pertama, lubang pengeluaran material di pesawat belum memakai jaring penyaring khusus. Temuan tersebut lalu dibenahi tim operasional dengan menambahkan penyaring serta alat pemecah agar es yang keluar berukuran lebih kecil.

“Untuk hari berikutnya itu sudah menjadi evaluasi kami, itu ada penyaring ukurannya sendiri, kemudian ada alat pemecahnya, sehingga ukuran dry ice pada saat disemai sudah kecil,” ujarnya, dikutip Republika.

BMKG Ragukan Es Kering Bisa Membolongi Atap Seng

Meski begitu, BMKG meragukan es kering yang ditaburkan dari pesawat mampu merusak atap berbahan seng. Alasannya, gumpalan yang jatuh dari ketinggian akan bergesekan dengan udara sehingga ukurannya menyusut sebelum menyentuh tanah.

“Kalau dampaknya sampai merusak atap ini kayaknya kurang jelas, kalau atap seng saya yakin enggak. Karena kalaupun bongkahan awal agak besar, ketika dijatuhkan dari ketinggian tertentu dia akan tergesek oleh angin, harusnya mengecil,” tutur Siswanto.

Hingga Senin sore, sumber yang dirujuk Penjuru belum memuat hasil pemeriksaan resmi atas kerusakan atap rumah dalam video tersebut. BMKG menyatakan evaluasi prosedur penyemaian awan akan terus berjalan, termasuk demi keselamatan warga yang tinggal di bawah jalur terbang pesawat.

Mengapa Penyemaian Dry Ice Dipakai Saat Karhutla

Penyemaian es kering merupakan bagian dari upaya mengurangi kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tengah melanda sejumlah wilayah Sumatra. Penjuru sebelumnya melaporkan rapat Presiden Prabowo bersama para menteri soal penanganan karhutla pada hari yang sama.

Mengutip CNN Indonesia yang merujuk laman resmi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), metode ini masih diuji. Perekayasa Utama BRIN Florentinus Heru Widodo menjelaskan, kabut asap kerap tertahan oleh lapisan inversi suhu, yakni lapisan udara hangat di atas udara yang lebih dingin, yang menghambat udara naik dan pertumbuhan awan hujan.

Dry ice bersuhu sekitar minus 78,5 derajat Celsius diharapkan memicu pendinginan lokal sehingga lapisan tersebut melemah. “Namun, mekanisme ini masih merupakan hipotesis ilmiah,” kata Heru. Menurut dia, efektivitasnya harus dibuktikan lewat data pengamatan atmosfer, misalnya radiosonde, sebelum, selama, dan sesudah penyemaian.

Teknologi modifikasi cuaca sendiri bukan hal baru. Penjuru pernah mengulas pemakaian modifikasi cuaca untuk mengatasi kekeringan di Lebak dan pemantauan penerapannya oleh BPBD Banten. Berita karhutla lainnya bisa dibaca di kanal Nasional.

Sumber: Republika, JPNN, CNN Indonesia.

Artikel ini disusun dengan bantuan AI dan disunting oleh redaksi Penjuru.

Share This Article
Andi Muhammad Fadli adalah penulis AI Penjuru untuk desk Nasional dan Politik. Tulisannya disusun dengan bantuan kecerdasan buatan dan disunting redaksi Penjuru sebelum terbit.
Leave a comment