IHSG Anjlok 3,64 Persen ke 4.996, Dibayangi Ancaman MSCI

I Gede Arya Wiranata
5 Min Read
Ilustrasi: layar bursa dengan grafik candlestick merah menukik tajam (Gambar dibuat dengan AI)

JAKARTA, Penjuru.co.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertekan dan ditutup melemah 3,64 persen ke level 4.996,61 pada Senin (19/10/2026). Tekanan masih dipicu rencana MSCI mengubah status pasar modal Indonesia dari pasar berkembang menjadi pasar standalone.

Menurut data penutupan yang dilaporkan CNBC Indonesia dan IDX Channel, IHSG turun sekitar 188 poin. Sebelum memangkas koreksi pada sesi kedua, indeks sempat jatuh hingga 5,36 persen ke titik terendah harian 4.907,37, angka yang juga dicatat Kompas.com.

Pelemahan ini menyambung kejatuhan pada Jumat (16/10/2026), ketika IHSG merosot sekitar 11,6 persen dalam sehari. Kantor berita Reuters dan CNBC International menyebut indeks kini berada di level terendah dalam enam tahun.

Mengapa IHSG Anjlok: Rencana Status Standalone dari MSCI

MSCI, penyedia indeks saham global yang menjadi acuan banyak manajer investasi, membuka konsultasi untuk mengubah klasifikasi Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Jika terjadi, saham Indonesia berisiko keluar dari indeks acuan global yang diikuti dana-dana besar.

Ini bukan peringatan pertama. CNBC Indonesia mencatat, sejak Januari MSCI sudah menyoroti keterbukaan struktur pemegang saham serta pola transaksi di bursa Indonesia, dan kala itu membuka kemungkinan penurunan ke kategori frontier market. Menurut CNBC International, keputusan final MSCI diperkirakan keluar paling lambat Juni, bergantung pada perbaikan tata kelola pasar yang bisa ditunjukkan otoritas Indonesia.

Potensi Arus Keluar Dana Asing

Goldman Sachs memperkirakan pengeluaran Indonesia dari indeks MSCI dapat memicu arus keluar dana pasif sekitar 5,6 miliar dolar AS, menurut CNBC Indonesia dan CNBC International. Adapun BRI Danareksa Sekuritas, dikutip Kompas.com, mencatat arus keluar dana asing dari pasar saham sejak awal tahun mencapai Rp88,19 triliun.

Saham perbankan besar ikut menjadi pemberat. CNBC Indonesia menyebut BBCA, BBRI, BYAN, TLKM, dan AMMN sebagai penekan utama indeks hari ini. Nilai tukar rupiah juga melemah ke kisaran 18.040 per dolar AS, menurut Reuters.

Respons BEI dan Pemerintah

Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan dukungan OJK menurunkan ambang auto rejection bawah (ARB), yang semula 15 persen, menjadi 7 persen. Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menilai kebijakan itu cukup efektif meredam kepanikan.

“Untuk mencegah investor mengambil keputusan dalam kondisi ketidakpastian yang tinggi, ketakutan, kepanikan, makanya hari ini kami mengambil kebijakan untuk menyesuaikan Auto Rejection Bawah menjadi 7 persen,” kata Jeffrey, dikutip CNN Indonesia. Menurut dia, tekanan jual masih ada, tetapi tingkat kepanikan sudah berkurang dibanding Jumat lalu.

Pada Senin sore, Presiden Prabowo Subianto memanggil sejumlah pejabat ekonomi ke Istana Kepresidenan. CNN Indonesia dan CNBC Indonesia melaporkan kehadiran Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi, CEO Danantara Rosan Roeslani, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, dan Gubernur BI. Hingga berita ini disusun, belum ada penjelasan resmi apakah rapat itu membahas langkah MSCI.

COO Danantara Dony Oskaria menyebut Danantara akan menambah kepemilikan saham BUMN yang fundamentalnya bagus. “Biasa itu dinamika. Dan pelan-pelan,” ujarnya soal pelemahan IHSG, seperti dikutip CNBC Indonesia.

Dampak bagi Investor Ritel

Di tengah gejolak ini, sejumlah emiten besar mengumumkan pembelian kembali saham, termasuk DSSA, BREN, dan CUAN yang menyiapkan buyback Rp2,5 triliun usai sanksi OJK. Kepercayaan investor menjadi kunci, sejalan dengan pentingnya penguatan ekosistem pasar modal untuk menambah investor saham.

Pelemahan bursa akibat sentimen global bukan hal baru, seperti saat IHSG ditutup melemah mengikuti bursa saham global. Namun, besarnya koreksi dalam dua hari terakhir membuat investor perlu berhati-hati dan tidak mengambil keputusan karena panik.

Apa Selanjutnya

Pelaku pasar kini menunggu hasil rapat di Istana serta langkah lanjutan OJK dan BEI untuk menjawab kekhawatiran MSCI soal transparansi kepemilikan saham. Ikuti perkembangan ekonomi terbaru di kanal Ekonomi Penjuru.

Sumber: CNBC Indonesia, IDX Channel, Kompas.com, CNBC International, Reuters via Investing.com, CNN Indonesia – BEI, CNBC Indonesia – ARB 7 Persen, CNN Indonesia – Istana, CNBC Indonesia – Danantara, CNBC Indonesia – Dony Oskaria.

Artikel ini disusun dengan bantuan AI dan disunting oleh redaksi Penjuru. Artikel ini bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual saham.

Share This Article
I Gede Arya Wiranata adalah penulis AI Penjuru untuk desk Ekonomi dan Bisnis. Tulisannya disusun dengan bantuan AI dan disunting redaksi Penjuru.
Leave a comment